|
Konversi minyak tanah ke elpiji menuai banyak kenyataan lain di lapangan dari apa yang di harapkan pemerintah. Sejak mulai minggu pertama bulan mei, pembagian kompor dan tabung gas memang sedang di lakukan di beberapa kecamatan di kabupaten Cilacap. Di Desa Sidareja hampir semua masyarakat mendapat bagian, bahkan ada yang mendapat dua jatah karena mereka juga mempunyai usaha kecil menengah (UKM). Sedangkan di cinangsi dari 1552 total jumlah yang di daftarkan, ada sekitar 50 orang yang belum dapat jatah. Gas yang masuk baru berjumlah 1502 buah. Tarikan Di desa Cinangsi beberapa warga protes terkait dengan tarikan yang di lakukan oleh panitia distribusi gas. Mereka memprotes perbedaan tarikan yang dilakukan. Di dusun Cibriluk warga yang mendapatkan gas di tarik biaya sebesar Rp. 6.000,-, di dusun cinangsi timur Rp. 3000,- sedangkan di dusun cinangsi barat Rp. 5000,-. Mereka menyesalkan perbedaan itu. "Jelas itu menimbulkan masalah di masyarakat. perbedaan tarikan justru menimbulkan kecemburuan di masyarakat", ungkap Edi warga Cinangsi Barat.
Lain lagi yang di ungkapkan oleh Tri warga cinangsi, ia justru memprotes tentang adanya tarikan. "Menurut apa yang saya tahu, program pembagian ini adalah gratis tanpa pungutan biaya sepeserpun, kenapa tiba-tiba jadi ada tarikan. Jika pun mau ada tarikan mestinya di rembug dulu sama warga biar tidak terjadi konflik. bukan masalah nilai, tapi caranya saya kira salah", ungkapnya. Panitia distribusi Cinangsi Joko (45) ketika di hubungi mengatakan bahwa tarikan biaya hanya untuk biaya transportasi mengantarkan sampai ke tingkat RT. Jadi pada intinya gratis. Biaya hanya untuk memudahkan pendistribusian saja. Karena dari pemerintah distribusi hanya sampai balai desa. Makanya kemudia muncul inisiatif pembiayaan tersebut. Masyarakat tidak menyukai konversi enomena lain yang terjadi adalah banyaknya masyarakat yang menjual bantuan gas dari pemerintah tersebut ke pedagang atau orang lain. Di desa Sidamulya, Sudagaran, mereka menjual paket tabung gas dan kompor gas seharga Rp. 120.000,-. Kebanyakan dari mereka mengatakan masih takut menggunakan gas. "takut njebluk", kata purwoko warga Sudagaran. Beberapa warga Cinangsi juga mengatakan masih terbiasa menggunakan kayu bakar. Bapak Sakun malah mengatakan jika ia disuruh memilih antara 1 kol kayu bakar atau paket kompor. Ia lebih memilih kayu bakar. Banyak kalangan yang mengatakan bahwa konversi minyak tanah suatu saat justru akan membebani warga dengan mahalnya alat seperti rabung dan kompor jika suatu saat rusak. Sementara minyak tanah nantinya juga di pastikan akan lebih mahal. "Ini dilematis mas jangka panjangnya", kata dadang. Tapi warga juga kebanyakan antusias menerima pemberian paket tabung gas dan kompor gas. terutama mereka yang memang sebelumnya belum pernah memakai bahan bakar gas. Satu kekhawatiran dari mereka kebanyakan adalaha resiko meledak.
|