|
Dunia Akademik Miskinkan Bahasa Indonesia |
|
|
|
|
Written by irsyadul Ibad
|
|
Wednesday, 06 May 2009 17:58 |
Salah satu tradisi yang dapat menghilangkan kosakata bahasa Indonesia adalah penyesuaian (adaptasi) atau penggunaan langsung istilah-istilah ilmiah berbahasa asing di lingkungan pendidikan, terutama perguruan tinggi. Banyak kata yang dapat ditulis atau diujarkan berbahasa Indonesia asli, diterjemahkan atau disesuaikan dengan istilah-istilah asing. Padahal tidak selalu penyesuaian atau penerjemahan tersebut dibutuhkan karena masih ada padanan kata dalam Bahasa Indoensia. Saya tidak bermaksud menuduh lembaga pendidikan bersalah untuk soal ini, tapi hal tersebut adalah bukti tidak terbantahkan.
Dalam proses perkuliahan, saya secara pribadi kerap menemukan istilah-istilah yang digunakan oleh dosen, misalnya, untuk menjelaskan teori tertentu. Padahal beberapa di antaranya masih memiliki padanan dalam Bahasa Indoensia. Misalnya adalah istilah "diskusi kelompok terarah." Dalam proses belajar saya di kampus dan forum-forum ilmiah, saya lebih sering mendengar istilah ini dalam pengucapan berbahasa Ingrris: "Focus Group Discussion" atau FGD. Fakta lebih buruk yang temukan, terkadang istilah yang digunakan oleh pengajar tidak memperhatikan logika bahasa. Struktur diterangkan-menerangkan yang digunakan dalam Bahasa Indonesia, digantikan secara sembrono menjadi menerangkan-diterangkan.
Dosen dan guru sering kali malas untuk mempelajari soal ini, jadi wajar kalau makalah atau hasil penelitian yang ditulis oleh kaum akademik sering berisi tumpukan bahasa asing. Mari kita mencoba menguji anggitan ini. Coba kita mencari tiga atau empat jurnal penelitian yang diterbitkan oleh universitas atau perguruan tinggi. Lalu, mari kita selidiki apakah anggitan ini tepat. Sejauh pengalaman saya selama ini membaca jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh kalangan pendidikan, anggitan ini saya rasa benar.
Berikut ini beberapa contoh kata-kata yang secara sembrono diterjemahkan atau digunakan dalam dunia pendidikan, yang akhirnya menghilangkan kosakata asli berbahasa indonesia: 1. AlasanĀ menjadi argumen 2. Suratkabar menjadi newsletter 3. Kegiatan menjadi aktivitas 4. Ilmu hayat menjadi biologi 5. Ilmu jiwa menjadi psikologi 6. Ilmu sosial menjadi humaniora 7. arus utama menjadi mainstream 8. Tanggung gugat menjadi akuntabilitas 9. Bukti menjadi fakta 10. kenyataan menjadi realitas 11. Pemasaran menjadi marketing 12. Anggapan menjadi asumsi, 13. Laporan menjadi raport 14. Menggolongkan menjadi mengklasifikasi 15. Memilah menjadi menyortir 16. Penilaian menjadi evaluasi 17. Perseorangan menjadi individu 18. Hubungan menjadi relasi 19. Akibat menjadi efek 20. Penelitian menjadi riset 21. Tindakan menjadi aksi selain kata-kata ini, tentu sudah banyak kata yang menghilang dari kosakata Bahasa Indonesia.
Kenapa saya harus mempermasalahkan cara berbahasa di lingkungan pendidikan? jawabannya sederhana: lembaga pendidikan adalah lembaga yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat. Coba bayangkan, Jika di sebuah fakultas terdapat 50 orang mahasiswa, maka ada 50 orang yang berkemungkinan memiliki kebiasaan (tradisi) berbahasa yang sama. Jika masing-masing mahasiswa tesebut bergaul dengan 3 orang saja, maka sudah 150 orang berkemungkinan tertular kebiasaan berbahasa tersebut. Bayangkan jika 150 orang tersebut bergaul dengan sejumlah orang lain, dan alur pertukaran pengetahuan ini terus berjalan! Seberapa luaskah pengaruh kebiasaan berbahasa yang bruk di perguruan tinggi akan menular di tengah masyarakat?
Mari berpikir dan mengingat, apakah kata asli dalam Bahasa Indonesia untuk kata-kata berikut: 1. Faktor 2. Proses 3. Bulu tangkis 4. Respon 5. Kompleks 6. Aksi 7. Institusi 8. Universitas 9. Strategis 10. Efisien, dll mungkin banyak di antara orang Indonesia sudah melupakan kosakata asli berbahasa Indonesia untuk istilah-istilah ini.
|
|
Last Updated on Wednesday, 06 May 2009 18:05 |