|
Warga Cinangsi Protes Iuran Saat Pembagian Tabung Gas |
|
|
|
|
Written by Ahmad Fadli
|
|
Saturday, 09 May 2009 12:16 |
|
Konversi minyak tanah ke elpiji menuai banyak kenyataan lain di lapangan dari apa yang di harapkan pemerintah. Sejak mulai minggu pertama bulan mei, pembagian kompor dan tabung gas memang sedang di lakukan di beberapa kecamatan di kabupaten Cilacap. Di Desa Sidareja hampir semua masyarakat mendapat bagian, bahkan ada yang mendapat dua jatah karena mereka juga mempunyai usaha kecil menengah (UKM). Sedangkan di cinangsi dari 1552 total jumlah yang di daftarkan, ada sekitar 50 orang yang belum dapat jatah. Gas yang masuk baru berjumlah 1502 buah. Tarikan Di desa Cinangsi beberapa warga protes terkait dengan tarikan yang di lakukan oleh panitia distribusi gas. Mereka memprotes perbedaan tarikan yang dilakukan. Di dusun Cibriluk warga yang mendapatkan gas di tarik biaya sebesar Rp. 6.000,-, di dusun cinangsi timur Rp. 3000,- sedangkan di dusun cinangsi barat Rp. 5000,-. Mereka menyesalkan perbedaan itu. "Jelas itu menimbulkan masalah di masyarakat. perbedaan tarikan justru menimbulkan kecemburuan di masyarakat", ungkap Edi warga Cinangsi Barat.
|
|
Last Updated on Sunday, 10 May 2009 13:03 |
|
Read more...
|
|
|
Jadi Orang Desa Itu Pahit, Kawan! |
|
|
|
|
Written by Ibad
|
|
Friday, 08 May 2009 16:36 |
Desa adalah kata yang sudah tak asing di telinga. Hampir semua orang di Indonesia mengerti arti kata ini meski berasal dari kota. Sayangnya, bayangan tentang desa nyaris selalu tidak mengenakkan: kemiskinan, kekolotan, kekumuhan, dll. Desa selalu dilekatkan dengan situasi orang-orang terbelakang yang tidak mengenal dunia modern dengan baik. Tempat tinggal sekumpulan orang yang mudah dipengaruhi, diarahakan, dan ketinggalan jika dibandingkan dengan orang-orang kota.
|
|
Read more...
|
|
Dunia Akademik Miskinkan Bahasa Indonesia |
|
|
|
|
Written by irsyadul Ibad
|
|
Wednesday, 06 May 2009 17:58 |
Salah satu tradisi yang dapat menghilangkan kosakata bahasa Indonesia adalah penyesuaian (adaptasi) atau penggunaan langsung istilah-istilah ilmiah berbahasa asing di lingkungan pendidikan, terutama perguruan tinggi. Banyak kata yang dapat ditulis atau diujarkan berbahasa Indonesia asli, diterjemahkan atau disesuaikan dengan istilah-istilah asing. Padahal tidak selalu penyesuaian atau penerjemahan tersebut dibutuhkan karena masih ada padanan kata dalam Bahasa Indoensia. Saya tidak bermaksud menuduh lembaga pendidikan bersalah untuk soal ini, tapi hal tersebut adalah bukti tidak terbantahkan.
|
|
Last Updated on Wednesday, 06 May 2009 18:05 |
|
Read more...
|
|
Jurnalisme Warga Kunci Demokratisasi Informasi |
|
|
|
|
Written by irsyadul ibad
|
|
Wednesday, 06 May 2009 06:38 |
Perkembangan jurnalisme warga yang pesat akan mendorong terciptanya demokratisasi informasi. Warga tidak sekadar objek pemberitaan media massa, tapi mampu memberitakan peristiwa di lingkungannya. Akibatnya, ruang publik tidak dimonopoli oleh pendapat orang-orang besar, pendapat warga biasapun bisa muncul.
|
|
Last Updated on Wednesday, 06 May 2009 17:58 |
|
Read more...
|
|
Pembaca Miskin Informasi Lokal |
|
|
|
|
Written by Yossy
|
|
Wednesday, 06 May 2009 06:30 |
Pembaca media massa cenderung punya informasi global tapi miskin informasi lokal. Mereka mampu menyebutkan nama sungai terbesar di dunia dibanding nama sungai di desanya. Akhirnya, lahir generasi yang tercerabut dari pengetahuan lingkungannya. 
Demikian kesimpulan simulasi sederhana yang difasilitasi oleh Irsyadul Ibad, Direktur Institute for Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (infest) Yogyakarta dalam kuliah jurnalisme warga di Jurusan Sosiologi, Fakutas Ilmu Sosial dan Humaniora, universitas Islam Indonesia. Ibad, demikian sebutan populernya, mengajak para mahasiswa untuk menyebutkan sepuluh benda yang ada di lingkungan perkuliahan, namun tidak semua mahasiswa mampu menyebutkannya.
|
|
Last Updated on Wednesday, 06 May 2009 17:53 |
|
Read more...
|
|
Tradisi yang Menghilangkan Kosakata Bahasa Indonesia (2) |
|
|
|
|
Written by Irsyad
|
|
Tuesday, 05 May 2009 13:20 |
Tradisi kedua yang kerap menghilangkan perbendaharaan kata Bahasa Indonesia adalah penggunaan singkatan secara tidak tepat. Penggunaan yang berulang-ulang menyebabkan orang tidak mengetahui asal kata atau kata-kata yang menyusun pelbagai singkatan. Apalagi jika kebiasaan untuk menggunakan singkatan tidak diikuti dengan kebiasaan untuk memberikan penjelasan atas singkatan.
|
|
Last Updated on Tuesday, 05 May 2009 13:37 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 2 of 7 |