|
Nasionalisme dan Pedagang Roti Bakar |
|
|
|
|
Written by infest
|
|
Tuesday, 24 March 2009 00:00 |
Malam agak pekat. Jarum jam menunjuk angka 12. Tepat tengah malam. Entah lapar atau sekedar nafsu jajan yang menuntun saya mendekati gerobak roti bakar yang hampir tutup. Pedagangnya mulai berkemas pulang. Ketika menlihat saya berhenti, sejenak ia menunda keinginan berkemas, tampaknya. “Masih kok mas” selorohnya.Saya memesan sepotong roti isi coklat kacang kegemaran saya. Sambil menunggu, sebatang saya duduk di belakang penjual roti yang kira-kira berusia 31 tahun itu. Saat membesarkan nyala api kompor, satu hal menarik perhatian saya.
|
|
Last Updated on Friday, 24 April 2009 14:52 |
|
Read more...
|
|
|
Demonstrasi 20 Desember 08 |
|
|
|
|
Written by infest
|
|
Thursday, 19 March 2009 00:00 |
Jam menunjukkan pukul setangah tiga sore. Saya masih duduk di depan komputer untuk meneruskan proses editing film “kampanye iklan yang mendidik”. Saya sendirian setelah beberapa teman berangkat memancing ikan untuk membuang penat di akhir pekan. Sungguh, saya mersa sangat suntuk. Tiba-tiba sebuah sms datang dari seorang kawan yang belum lama berangkat pulang ke pakem. Isinya kira-kira begini: “Mas, ada demo menarik di pertigaan UIN (Sunan Kalijaga). Pendemo blokir Jalan. Banyak polisi di sini. Kalau mau buat stock shoot menarik”. Tak buang waktu lama, saya segera berganti pakaian. Menyalakan sepeda motor yang sudah 4 hari tidak dinyalakan mesinnya, lalu langsung berangkat. Niatan ingin berangkat cepat sedikit terhalangi, ternyata sepeda motor butut ini sudah kekeringan bensin. “wah, bensin sudah turun tapi kok malah ada motor kekeringan bensin, “ saya berkelakar sendiri untuk buat kesal. Saya benar-benar terobsesi mengbadikan sebuah moemen penting. Saya yakin ini demonstrasi soal BHP. Sayang kalau prosesnya tidak terdokumentasikan.
|
|
Read more...
|
|
Written by irsyad
|
|
Wednesday, 18 March 2009 00:00 |
Wajah Kang Jan begitu suram sore itu. Matanya menunjukkan kalau di kepala pria berusia 40 tahunan itu sedang ada masalah yang berat. Pelayanan angkringan pun menjadi kurang dari apa adanya, tanpa senyum dan sapaan manis yang ramah ke setiap pembeli seperti biasanya. Teh jahe, es teh, jeruk panas, es tape semua ikut menjadi korban. Kesemua diaduk dengan tanpa perasaan. Ceker, sayap dan kepala ayam, tempe goreng dan bakwan pun tak luput, dibakar dengan setengah hati. Penuh arang dan gosong yang tak wajar. Angkringan kang Jan sangat janggal malam itu. Sepinya, seperti kuburan. Penyebabnya cuma satu, sang pemilik tak kunjung angkat bicara selain saat menghitung jumlah belanjaan pelanggan.
|
|
Last Updated on Friday, 24 April 2009 14:57 |
|
Read more...
|
|
Written by irsyad
|
|
Wednesday, 18 March 2009 00:00 |
|
Coba kalau ada seorang peneliti yang mau menilik, berapa kali kata surga disebutkan oleh rata-rata seorang mubaligh selama bulan ramadhan dalam ceramahnya, mungkin hasilnya akan sangat mengagumkan. Surga adalah salah satu kata yang paling banyak disebut selain neraka, pahala, ganjaran, lailatul Qadar, fakir miskin. Tapi berapa banyak ulama-mubaligh yang mau bicara krisis sosial-budaya dari perspektif yang manusiawi ¾tidak perlu melibatkan istilah-istilah langit yang memang melangit? Entahlah, ramadhan memang arena kenduren akbar yang menyediakan segala fasilitas. Tapi seperti kenduren lain, selepasnya para peserta hanya akan kembali meringkuk dalam lelap tidur. Hanya sekedar arena bagi-bagi kotak berkat. Ramadhan itu semakin seperti balon yang menghadang laju kereta, ketika tabrakan suaranya banter, setelah itu sepi dan meninggalkan sampah.
|
|
Last Updated on Thursday, 09 April 2009 12:48 |
|
Read more...
|
|
Konferensi Seluler sebagai Strategi Baru dalam Manajemen Konflik Sosial |
|
|
|
|
Written by Ridwan Munawwar
|
|
Tuesday, 17 March 2009 00:00 |
|

Sampai saat ini Indonesia masih menjadi salah satu negara yang rawan akan berbagai macam konflik sosial. Dari yang bermotif politik, ideologi, konflik antaretnis, kelompok versus negara (konflik vertikal) sampai sentimen antarkelompo k keagamaan. Kesemuanya itu telah mengakibatkan berbagai hambatan yang tajam bagi kebudayaan dan peradaban dan nyaris mengakibatkan disintegrasi bangsa yang majemuk ini. Tak pelak lagi, konflik antaretnik adalah salah satu masalah nasional terbesar yang saat ini kita hadapi. Di tengah suasana zaman yang rentan konflik ini, sudah seharusnya kita menilik dan memaksimalkan kembali fungsi infrastuktur komunikasi sebagai bagian dari prasarana sosial yang tugas utamanya adalah mempererat ikatan dalam suatu masyarakat. Sistem komunikasi amat berperan dalam membentuk masyarakat terbuka (open society). Banyak permasalahan sosial yang sesungguhnya berakar pada permasalahan komunikasi. Maka dari itu, sistem komunikasi sosial yang baik dan efektif merupakan hal yang menjadi kunci bagi terbentuknya struktur dan sistem sosial yang toleran, adil, harmonis dan terbuka satu sama lain.
|
|
Last Updated on Thursday, 09 April 2009 12:47 |
|
Read more...
|
|
MANAGING THE DIFFERENCES FOR THE SAKE OF HUMANISM |
|
|
|
|
Written by Muhammad Irsyadul Ibad
|
|
Thursday, 12 March 2009 00:00 |
|
People of the state are always silence. People of the state are always silence. But they have still remember and have never forgotten. People like a giant dragon. His bigh body coils in silence, but five senses and intuition of him are strong. Don’t hurt them, even hurt them time and again. They will get-up and destroy. Jakob Sumardjo3
While I write this paper, Indonesian mass-media is busy to break news on an execution of three Bali bombers (10-12-2002). Finally, they are executed on 2 PM (11-9-2008). This current news had been evocative the humiliated tragedy which killed 202 people and gashed 200 people in six years ago. This is the humiliated tragedy in Indonesia and has been still living within memory of the society. This tragedy is not only indicator of spreading radicalism in pluralized-Indonesian society, but it’s a major threat to pluralism and tolerance in Indonesia as well. The Bali’s bombing had brought us into question about the seriousness of Indonesian to live together in diversities. It becomes an admonition the other countries to break the same terrors and avoid it.
|
|
Last Updated on Thursday, 09 April 2009 12:47 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
Page 7 of 7 |