|
Written by irsyad
|
|
Sunday, 19 April 2009 01:36 |
|
Di lorong kereta ekonomi yang sepi keramaian adalah kemelaratan pedagang asongan dan pengemis yang hilir mudik Kesepian kian pekat kala masa lalu bertamu membawa lanskap lawas dulu yang mengendap di dasar secangkir kopi seharga 2000 perak Kopi adalah penjaga kenangan dari kejadian yang sangat mudah dilupakan : rasa pahitnya yang mengundang ketagihan di sepanjang rel perjalanan ini wajahmu tertatah duduk manis di samping pengemis yang terjangkit kusta para pedagang dan tiupan peluit memanggil-manggil aku untuk kembali mengulang setiap detik awan yang memerah membaca dirimu mengulang perjalanan dalam kereta seperti menghirup kopi pahit
|
|
|
PANDANGAN ISLÂM TENTANG HAK-HAK SIPIL POLITIK DAN HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA |
|
|
|
|
Written by Mouvty Makarim al- Akhlaq
|
|
Tuesday, 15 April 2008 00:00 |
|
Hak-hak sipil politik yang dimaksud di sini adalah adalah hak-hak indvidu berhadapan dengan negara dan masyarakat, sebagaimana yang diatur dalam wacana Hak Asasi Manusia (HAM), meliputi hak partisipasi politik, kesamaan di muka hukum, serta bebas dari diskriminasi atas dasar ras, agama atau gender. Dalam wacana konstitusional Barat, istilah ‘hak-hak sipil’ (civil right) dan ‘kebebasan sipil’ (civil liberties) sering dipakai bergantian, dimana yang pertama lebih menunjuk kepada hak-hak individu, sementara yang terakhir merujuk kepada status legal dan konstitusional serta perlakuan terhadap kelompok-kelompok minoritas yang biasanya diabaikan kelompok mayoritas dengan alasan ras, agama serta asal usul kebangsaan. Dalam syarî’ah (hukum Islâm) keduanya tidak dibedakan karena adanya keterkaitan antara keduanya kecuali dalam keadaan yang sangat khusus, di samping akan sedikit mengacaukan. Sampai saat ini, tuntutan akan ‘hak-hak sipil’ seringkali ditanggapi sebagai tuntutan ‘negatif’ [masyarakat] yang berhadapan dengan tuntutan ‘positif’ [negara]. Dalam kasus warga Hitam Amerika misalnya, meskipun ‘kebebasan sipil’ dasar mereka secara konstitusional dilindungi, namun ‘hak-hak sipil’ mereka masih dilanggar.[1]
|
|
Read more...
|
|
Relasi Politik dan Hukum di Indonesia |
|
|
|
|
Written by Mufti Makarim. A
|
|
Sunday, 29 March 2009 00:00 |
JJ Rousseau, Du Contract Social
Berbicara tentang relasi antara hukum dan politik adalah berbicara bagaimana hukum bekerja dalam sebuah situasi politik tertentu. Dalam hal ini yang dimaksud adalah hukum sebagai perwujudan dari nilai-nilai yang berkembang dan nilai-nilai yang dimaksud adalah keadilan. Dengan demikian idealnya hukum dibuat dengan mempertimbangkan adanya kepentingan untuk mewujudkan nilai-nilai keadilan tersebut. Dengan ciri-ciri mengandung perintah dan larangan, menuntut kepatuhan dan adanya sangsi, maka hukum yang berjalan akan menciptakan ketertiban dan keadilan di masyarakat.
|
|
Last Updated on Friday, 24 April 2009 14:22 |
|
Read more...
|
|
Written by Irsyad
|
|
Saturday, 28 March 2009 00:00 |
Kutahu namanya sebelum gempa merusak hampir setengah kotaku. Tapi setelah kejadian itu ia menjadi semakin terkenal. Seperti goncangan gempa yang sekejap menghapus rumah-rumah dari peta satelit, seperti itu ia menjadi sangat terkenal. Para penduduk kampung tempat ia tinggal dan kampung sekitarnya sangat mengidolakan lelaki berusia 40 tahunan itu.
Pertama kali aku bertemu dengannya ketika ia menjadi penceramah di malam penutupan pelatihan organisasiku di kampus. Saat itu ratusan mata perserta pelatihan dan penduduk tempat kegiatan tertuju padanya. Tak terkecuali aku. Ia tampil sangat atraktif sambil membawakan pesan-pesan agama. Bagiku, mungkin juga bagi sebagian penduduk ini adalah gaya baru pengajian. Penceramah tidak hanya duduk menghadap buku “contekan” materi pengajian, lebih dari itu, ia mampu berakting cukup baik. Sesekali berdiri dari kursi mendekati para pendengar dan membawakan cerita-cerita yang menggelitik. Aku yang jenuh dengan kebanyakan gaya pengajian ikut terhipnotis dan enggan melewtkan pengajian satu itu. Bahkan ketika perutku terasa sakit karena menahan kencing tetap kupaksakan tak beranjak sedikitpun dari kursi. Pikirku, kencing bisa nanti kulakukan, tapi pengajian ini belum tentu nanti dapat kusaksikan.
|
|
Last Updated on Friday, 24 April 2009 14:29 |
|
Read more...
|
|
Written by Ridwan Munawwar
|
|
Monday, 23 March 2009 00:00 |
|
Kemiskinan adalah residu sistem. Kemiskinan bukan (lagi) hal yang alamiah. Ia diciptakan. Ia adalah produk dari suatu permainan politik yang nyaris kalis untuk dibaca. Betapa sakitnya menjadi miskin, betapa sakitnya terbuang di tengah zaman. Kita bahkan tak menyadari apa yang dicokolkan pada akal dan jiwa kita, sebab otak yang tercecer ke dalam mesin pabrik, tak ada yang mau memungutnya kembali.
Maka setiap tetes darah yang tertumpah dari suatu pembunuhan keji, setiap rasa lapar yang merenggut sebuah nyawa, bukanlah kehendak atau takdir tuhan, tapi akibat ketidakpedulian dan kekejaman hati yang dibentuk secara sistematis. Lihat bagaimana lapar melahirkan hasrat membunuh. Lihat bagaimana kasih sayang dipraktekan dalam tindakan mutilasi. Lihat bagaimana struktur ekonomi memproduk setiap tetes otak kita, membungkusnya ke dalam kemasan kaleng atau plastik lalu menjejalkannya ke dalam batok kepala kita.
|
|
Read more...
|
|
Membaca jawa: Studi atas Iinteraksi Kebudayaan Jawa, Hindu, Budha Sebelum Islam |
|
|
|
|
Written by Muhammad Irsyadul Ibad
|
|
Thursday, 26 March 2009 00:00 |
|
Pengantar Poenika sejarahipoen para ratoe ing tanah Jawi, wiwit saking nabi Adam, apepoetra Sis. Esis apepoetra Noertjahja. Nurtjahjo apepoetra Noerasa. Noerasa apepoetra Sahyang Wening. Sahyang Wening apepoetra Sanhyang Toenggal. Sahyang Toenggal apepoetra gangsal, anama batara Sambo, batara Brama, batara Maha-Dewa, batara Wisnoe, dewi Sri. Batara Wisnu waoe djomeneng ratoe wonten ing poeloe Jawi, adjedjoeloek praboe Set. Kedatonipun batara Goeroe anama ing Soera-Laja1. Dalam pengantar buku Etika Jawa, Frans Magnis Suseno memberikan sebuah interpretasi pengantar yang cukup menarik diperhatikan berkenaan dengan kebudayaan Jawa. Jawa dinilai sebagai sebuah kebudayaan yang memiliki kekokohan untuk menjadikannya tetap eksis. Kedatangan agama Budha ke dalam kebudayaan Jawa tidak menciptakan Jawa yang Budha.
|
|
Last Updated on Friday, 24 April 2009 15:01 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|
|
Page 6 of 7 |